Senin, 28 Maret 2011

PERBUATAN RIYA

RIYA
HADITS UMUM
NIGHT MITRA
PA 2B
Riya’

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ 
الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا

 Dari mahmud ibnu lambidin nabi SAW. Bersabda sesdungguhnya aku takut akan kamu sekalian atas syirik kecil ia berkata dan apa itu syirik kecil wahai rasullah ia menjawab “riya” (hr. ahmad)

Kata kunci :

1.      takut akan perbuatan syirik

ü      riya

ü      syirik kecil

Riya
Riya adalah berbuat kebaikan/ibadah dengan maksud pamer kepada manusia agar orang mengira dan memujinya sebagai orang yang baik atau gemar beribadah seperti shalat, puasa, sedekah, dan sebagainya.
Ciri-ciri riya:
Orang yang riya berciri tiga, yakni apabila di hadapan orang dia giat tapi bila sendirian dia malas, dan selalu ingin mendapat pujian dalam segala urusan. Sedangkan orang munafik ada tiga tanda yakni apabila berbicara bohong, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat. (HR. Ibnu Babawih).
Orang yang riya’, maka amal perbuatannya sia-sia belaka.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia” [QS. Al-Baqarah: 264]
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya” [Al Maa’uun 4-6]
Riya membuat amal sia-sia sebagaimana syirik. (HR. Ar-Rabii’)
Sesungguhnya riya adalah syirik yang kecil. (HR. Ahmad dan Al Hakim)
Imam Al Ghazali mengumpamakan orang yang riya itu sebagai orang yang malas ketika dia hanya berdua saja dengan rajanya. Namun ketika ada budak sang raja hadir, baru dia bekerja dan berbuat baik untuk mendapat pujian dari budak-budak tersebut.

Dari Abi Hurairah-radliyallahu anhu, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda:” Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya:’Amal apakah yang engkau kerjakan dengan nikmat-nikmat itu?’,Ia menjawab:’Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman:’ Kamu dusta! kamu berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu dengan mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. berikutnya (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Lalu Allah menanyakannya:’ Amal apakah yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?.’ Ia menjawab:’Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca Al Qur’an hanyalah karena Engkau.” Allah berfirman:’ Kamu dusta! Kamu menuntut Ilmu agar dikatakan seorang alim (yang berilmu) dan kamu membaca Al Qur’an supaya dikatakan seorang qori’ (pembaca Al Qur’an yang baik). Memang begitulah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang didadili) adalah orang yang diberikat rejeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenali (mengakuinya). Allah bertanya :’ Apa yang kamu perbuat dengan nikmat-nikmat itu? Dia menjawab :’ Aku tidak pernah meninggalkan shadaqoh dan infak pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman:’ Kamu dusta! kamu berbuat yang demikian supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya kedalam neraka.”

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwatkan oleh:
  1. Muslim, Kitabul Imarah bab Man Qaatala lir Riya’ was Sum’ah Istahaqqannar 6/47 atau 3/1513-1514 no 1905
  2. An-Nasai, Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala: Fulan Jari’, Sunan Nasai 6/23-24
  3. Ahmad, dalam Musnad Ahmad 2/322
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani -rahimahullah- dalam Shahih Targhib wa Tarhib 1/85 no 20 dan dalam Shahih An-Nasai 2/658 no 2940.
Hadits yang semakna dengan ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunan-nya, Kitab Az Zuha’ bab Majaa’a fir Riya’ wa Sum’ah, Tuhfatul Ahwadzi 7/54 no 2489, Ibnu Khuzaimah dalam shahih-nya no 2482 dan Ibnu Hibban no 2502- Mawaridudh Dham’an.
Para perawi hadits ini tsiqoh (terpercaya). Kecuali Al Walid bin Abil Walid Abu Utsman. Dikatakan oelh Al Hafidh bahwa dia layyinul hadits (lemah haditsnya) dalam Taqribul Tahdzib 2/290 tahqiq Musthafa Abdul Qodir ‘Atha. Perkataan ini keliru karena karena Al Walid bin Abdil Walid termasuk perawi Imam Muslim dan dikatakan tsiqoh oleh Abu Zur’ah Ar Razi (lihat Al Jarh wa Ta’dil juz 9 hal 19-20).
At-Tirmidzi berkata tentang hadits ini : Hasan gharib, sedangkan AL hakim berkata : Shahihul isnad dan disetujui oleh Adz Dzahabi dalam Mustadrak Al hakim 1/419, lihat Ta’liq Sunan At Tirmidzi 4/169 dan Ta’liq Shahih Shahih Ibnu Khuzaimah 4/115.
Tatkala Muawiyah -Rodliallohu anhu- mendengar hadits ini, beliau berkata:” hukuman ini telah berlaku atas mereka, bagaimana dengan orang-orang yang akan datang?” kemudian beliau menangis terisak-isak hingga pingsan. Setelah siuman, beliau mengusap mukanya sambil berkata:”Benarlah Allah dan RosulNya, Allah berfirman:
Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan persiapannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akherat kecuali neraka. Lenyaplah di akherat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan [QS Hud 15-16].

Penjelasan Hadits
Nilai amal disisi Alloh Azza wa Jalla diukur dengan ikhlas karenaNya dan sesuai dengan contoh Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , bukan dengan banyak dan besarnya amal.
Alloh Azza wa Jalla berfirman:
“Katakanlah:”Sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Thannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shahih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya (Al Kahfi 110).

Hadits ini menjelaskan tentang tiga golongan manusia yang dimasukkan ke dalam neraka dan tidak mendapat penolong selain Alloh Azza wa Jalla . Mereka membawa amal yang besar, namun sayang, mereka melakukannya karena riya’, ingin mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Tiga golongan manusia itu adalah :
1. kaum yang dianugrahi Alloh Azza wa Jalla kesehatan dan kekuatan. Kewajiban mereka seharusnya adalah mencurahkan semuanya untuk Allah dan di jalan Allah dalam rangka mensyukuri nikmat-nikmatNya. Namun sayang, syaithon telah menjadikan mereka mencurahkannya diluar jalan itu. Mereka memang pergi ke medan jihad dan berperang, namun tujuannya hanya supaya disebut sebagai pemberani. Kepada merekalah Alloh Azza wa Jalla mengawali pengadilanNya pada hari kiamat. lalu Alloh Azza wa Jalla memperlihatkan nikmat-nikmatNya yang telah dianugrahkan kepada mereka , seraya bertanya,”Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat-nikmat itu?” Pada saat itulah Alloh Azza wa Jalla membuka rahasia hati mereka seraya berfiman,” Kamu pendusta! Sesungguhnya kamu berperang (berjihad) hanya supaya dikatakan pemberani (pahlawan).” Mereka tidak mampu membantah, dan demikianlah kenyataannya. Malaikatpun diperintahkan menarik wajah mereka dan melemparkan kedalam api neraka.
2. kaum yang dimuliakan Alloh Azza wa Jalla dengan diberi kesempatan untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada manusia, mereka mampu membaca Al Qur’an dan mempelajarinya, seharusnya dengan ilmunya tersebut mereka berniat karena Allah semata sebagai manifestasi rasa syukur kepada Allah atas limpahan rahmatNya. Namun sayang tujuan yang semestinya karena Allah, telah dipalingkan dan dihiasi oleh syaithon sehingga berbuat riya’ (pamer) dengan ilmunya di hadapan manusia agar mendapat pujian, kedudukan harta dan jabatan. Mereka tidak menyadari bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui apa yang mereka lakukan dan Allah mengetahui rahasia yang tersembunyi di hati mereka. Ternyata mereka belajar, mengajar, dan membaca Al Qur’an supaya dikatakan sebagai orang alim, pintar atau semisalnya. Sedangkan yang membaca Al Qur’an supaya dikatakan qari/qari’ah, orang yang bagus dan indah bacaannya, maka pada kiamat kelak tidak ada yang lain yang mereka peroleh kecuali dikatakan “Pendusta”. Mereka hanya terdiam disertai kehinaan, kerugian dan penuh penyesalan. Kemudian Alloh Azza wa Jalla menyuruh malaikat agar menyeret dan mencampakkan mereka kedalam neraka, Wal ‘iyadzubillah.
3. Kaum yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Mereka dalah golongan yang mampu, kaya. Kewajiban mereka semestinyalah bersyukur kepada Allah dengan ikhlas karena Allah semata. Namun sayang mereka shodaqoh, infaq, memberi dan mendermakan harta supaya dikatakan dermawan, supaya dikatakan orang baik dan semisalnya. Padahal apa yang dikatakan mereka di hadapan Allah bahwa mereka berinfaq, bershodaqoh karena Allah adalah dusta belaka, Allah mengetahui isis hati mereka, dan diperintakan malaikat untuk menyeret dan mencampakkan pendusta ini ke dalam neraka dan mereka tidak mendapatkan seorang penolongpun selain Alloh Azza wa Jalla [ lihat: Taujihat Nabawiyah ‘ala Thariq, DR Sayyid Muhammad nuh, cet. darul wafa’].
Imam Nawawi -rahimahullah- mengatakan bahwa sabda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tentang ornag yang berperang, orang alim dan dermawan serta siksa Allah atas mereka adalah karena mereka mengerjakan demikian untuk selain Allah, dan dimasukkannya mereka ke dalam neraka menunjukkan atas sangat haramnya riya’ dan keras siksanya serta diwajibkannya ikhlas dalam seluruh amal,
Alloh Azza wa Jalla berfirman:
“Tidaklah mereka diperintahkan melainkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” [QS Al Bayyinah 6].
Keumuman haidts-hadits tentang keutamaan jihad sesungguhnya bagi orang yang melaksanakannya karena Alloh Azza wa Jalla dengan ikhlas. Demikian juga pujian terhadap ulama/orang berilmu dan orang yang berinfaq, semua dengan syarat apabila mereka melakukannya semata-mata karena Alloh Azza wa Jalla .
Demikian mengerikannya siksa dan ancaman bagi kita orang yang berbuat riya’ dalam melakukan kebaikan. Mereka berbuat dengan tujuan mengharap pujian dan sanjungan dari manusia. Islam lebih banyak memperhatikan faktor niat (pendorong) suatu amalan itu sendiri, meskipun kedua-duanya mendapatkan perhatian.
Secara harfiah, sudah diketahui bahwa penipuan yang dilakukan seorang terhadap orang lain merupakan perbuatan hina dan dosa, bagaimana jika perbuatan penipuan ini dilakukan kepada Alloh Azza wa Jalla ?, maka perbuatan ini lebih sangat hina, buruk dan tercela. Dalam tulisan ini akan dibahas definisi riya’, sebab-sebabnya, macamnya, bahayanya, beberapa hal yang tidak termasuk riya’ serta obat penyakit riya’.

Definisi Riya’
Secara syar’I, para ulama berbeda pendapat dalam memerikan definisi riya’, namun intinya sama, yakni seorang melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, namun ia lakukan bukan karena Allah melainkan tujuan dunia.
Al Qurthibi mengatakan,” hakekat riya’adalah mencari apa yang ada di dunia dengan ibadah dan arti asalnya adalah mencari tempat di hati manusia”[lihat: Al Ikhlas, DR Umar Sulaiman Al Asyqor]
jadi riya’ adalah melakukan ibadah untuk mencari perhatian manusia sehingga mereka memuji pelakunya dan ia mengharapkan pengagungan dan pujian serta penghormatan dari orang yang melihatnya. [lihat : Fathul Bari 11/336, Al Ikhlas wa Syirkul Asghor hal 9].

Perbedaan Riya dan Sum’ah
Imam Bukhori -rahimahullah- dalam shahihnya membuat bab Ar Riya’ was Sum’ah dengan membawakan hadits Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam
“Barangsiapa memperdengarkan(menyiarkan) amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya, dan barangsiapa beramal karena riya’, maka Allah akan membuka niatnya (dihadapan manusia pada hari kiamat kelak)” (HSR Bukhori juz 7/189 dan Muslim no 2987].
Perbedaan riya dan sum’ah ialaha Riya’ berarti beramal karena diperlihatkan kepada orang lain, sedangkan sum’ah beramal supaya diperdengarkan kepada orang lain, Riya’ berkaitan dengan indra mata, sedangkan sum’ah berkaitan dengan indra telinga [lihat : Al Ikhlas hal 95, DR Umar Sulaiman Al Asyqor].

Perbedaan antara Riya dan ‘Ujub
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- mengatakan,” Seringkali orang menghubungkan antara riya’ dan ‘ujub, padahal riya’ merupakan perbuatan syirik kepada Allah karena makhluk, sedangkan ‘ujub adalah syirik kepada Allah karena nafsu [ lihat: Majmu Fatawa 10/277]
Imam Nawawi -rahimahullah- berkata,” ketahuilah bahwa keikhlasan niat terkadang dihalangi oleh penyakit ‘ujub. Barangsiap berlaku ‘ujub (mengagumi) amalnya sendiri maka akan terhapus amalnya. Demikian juga orang yang sombong [lihat : Syarh Arba’in hal 5].
Ujub menurut bahasa berarti kekaguman, kesombongan atau kebanggaan. yaitu seorang berbangga dengan diri dan pendapatnya. Orang yang berlaku ujub adalah orang yang tertipu dengan dirinya dan dengan ibadahnya. Ia tidak mewujudkan makna ‘Iyyaka nasta’iin” “hanya kepadaMu ya Allah kami mohon pertolongan.” Sedangkan orang yang berlaku riya’ tidak mewujudkan “iyyaka na’budu” “hanya kepadaMu Ya Allah kami beribadah”.
Apabila seorang telah mewujudkan makna iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in maka akan hilang penyakit riya dan ujub [lihat: Al Ikhlas hal 96-97 Dr Umar Sulaiman Al Asyqor]
Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,” Tiga perkara yang membinasakan, yaitu hawa nafsu jika dituruti, kebakhilan (kikir/pelit) yang ditaati, dan kebanggan seseorang terhadap dirinya.” [HSR AbuSyaikh dan Thabrani dalam Mu’jam Ausath-lihat : Shahih Jami’us Shaghir no 3039]

Sebab-Sebab Riya’
Sebab-sebab yang menjerumuskan manusia ke lembah riya’ adalah kecintaan kepada pangkat dan kedudukan. Jika hal ini dirinci, maka dapat dikembalikan kepada tiga sebab pokok, yaitu :
a. Senang menikmati pujian dan sanjungan
b. menghindari/takut celaan manusia
c. Tamak (sangat menginginkan) terhadap apa yang ada pada orng lain.
Hal ini dipertegas dengan riwayat did alam Ash Shahihain, dari hadits Abu Musa Al Asy’ari--Rodliallohu anhu- , ia berkata bahwa ada seseorang datang kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam seraya berkata,”Seseorng berperang karena rasa fanatisme, berperang dengan gagah berani dan berperang karena riya’, manakah dari yang demikian ini yang berada di jalan Alloh ?” Belia menjawab,”Barangsiapa berperang dengan tujuan agar kalimat Allah yang paling tinggi maka itu fi sabilillah.” [HSR Bukhori 8/189 dan Muslim 1904 and selain mereka].
Makna prkataan orng ini” berperang dengan gagh berani” adalah agar namanya disebut-sebut dan dipuji. Makna perkataan “ berperang dengan fanatisme (golongan)” yaitu ia tidak mau dihina atau dikalahkan. makna perkataan “ berperang karena riya” yaitu agar kedudukannya diketahui orang lain dan hal ini merupakan kenikmatan pangkat dan kedudukan di hati manusia.
Boleh jadi seseorang tidak tertarik pujian, namun ia takut terhadap hinaan. Seperti penakut diantara pemberani. Dia berusaha menguatkan hati untuk tidak melarikan diri agar tidak dihina dan dicela. Adakalanya seseorang memberi fatwa teanpa ilmu karena menghindari celaan supaya tidak dikatakan sebagai orang bodoh. Tiga hal inilah yang menggerakkan riya’ dan sebagai penyebabnya.

Macam-Macam Riya’

Riya’ ada beberapa macam, yaitu :
1. Riya’ yang berasal dari badan,contoh diantaranya seperti memperlihatkan bentuk tubuh yang kurus dan pucat agar tampak telah berusaha sedemikian rupa dalam beribadah dan takut pada akherat. Atau memperlihatkan ranbut yang acak-acakan agar dianggap terlalu sinuk dengan urusan agama sehingga merapikan rambutpun tidak sempat. Atau dengan memperlihatkan suaranya yang parau, mata cekung sayu dan bibir kering agar dianggap terus menerus berpuasa. Riya’ semacam ini dilakukan oleh para ahli ibadah. Adapun orang-orang yang sibuk dengan urusan dunia, riya’ mereka dengan memperlihatkan badan yang gemuk, penampilan yang bersih, wajah yang ganteng dan rambut yang kelimis.
2. Riya’ yang berasal dari pakaian dan gaya, seperti menundukkan kepala ketika berjalan, sengaja membiarkan bekas sujud di wajah, memakai pakaian tebal, mengenakan pakaian wol, menggulung lengan baju dan emmendekkannya serta sengaja ytampak lusuh (agar dianggap ahli ibadah), atau dengan mengenakan pakaian tambalan, berwarna biru, meniru kaum sufiyah padahal batinnya kosong dari kekhlasan. Atau memakai tutup kepala diatas sorban supaya orang meilhat adanya perbedaan dengan kebiasaan yang ada. Orang yang melakukan riya’ dalam jenis ini ada beberapa tingkat, diantara mereka ada yang mengharapkan kedudukan dikalangan orang yang baik dengan menampakkan kezuhudan dengan pakaian yang lusuh. sedangkan riya bagi para pemuja dunia adalah pakaian yang mahal, kendaraan yang bagus dan perabot yang mewah.
3. Riya’ dengan perkataan, seperti contohnya: memberi nasehat, peringatan, menghapal kisah-kisah terdahulu dan atsar namun dengan tujuan untuk berdebat atau memperlihatkan kedalaman ilmu dan perhatiannya kepada keadaan para salaf, atausengaja mengerakkan bibir supaya dikira sedang berzikir di hadapan orang banyak, menunjukkan kemarahan di hadapan orang banyak ketika melihat kemungkaran, sengaja memperindah bacaan Al Qur’an supaya dianggap menunjukkan sikap takut dan tawadlu dan semisalnya dan contoh lainnya.
4. Riya’ dengan perbuatan, seperti riya’ yang dilakukan orang yang sholat dengan memanjangkan bacaan saat berdiri, memanjangkan ruku’ dan sujud atau menampakkan kekhusyu’an atau yang lainnya, begitu pula dengan malan ibdah lainnya, puasa haji, shodaqoh, zakat dan lainnya.
5. Riya dengan teman dan orang-orang yang berkunjung kepadanya, seperti seseorang memaksakan dirinya supaya dikunjungi oleh ulama atau ahli ibadah ke tempat tinggalnya, supaya dikatakan” si fulan banyak dikunjungi ulama” riya’ dengan menyebutkan nama-nama gurunya agar orang berkomentar tentang dirinya dn dinggap orang berilmu, dia berbuat demikian untuk membanggakan diri.
kita memohon kepada Alloh Azza wa Jalla dari semua macam riya’ ini. [ lihat : Mukhtashor Minhajul Qosidin hal 175-178] oleh Imam Ibnu Qudamah, tahqiq Syaikh Ali Hasan, Ar Riya’ wa Atsaruhu As Sayi’ fil Ummah hal 17-20]

Ciri-ciri dan Tanda Riya’
Riya’ mempunyai ciri dan tanda-tanda sebagaimana kata Ali bin Abi Thalib –-Rodliallohu anhu- “ Orang yang berlaku riya’ memiliki tiga ciri, yakni:
1. Dia menjadi pemalas apabila sendirian
2. Dia menjadi giat semangat jika berada di tengah-tengah orang banyak
3. Dia menambah kegiatan kerjanya jika dipuji dan berkurang jika di ejek
[lihat: Al Kabair, Imam Adz Dzahabi hal 212, tahqiq Abu khalid Al Husein bin Muhammad As Sa’idi cet darul fikr]
Tanda yang paling jelas adalah merasa senang jika orang yang melihat ketaatannya, andaikan orang tidak melihatnya, dia tidak merasa senang. dari sini diketahui bahwa riya’ itu tersembunyi didalam hati seperti api yang tersembunyi dalam batu. Jika orang melihatnya maka menimbulkan kesenangan dan kesenangan ini bergerak dengan gerakan yang sangat halus, lalu membangkitkannya untukmenampakkan amalnya. Bahkan ia berusaha agar diketahui amalnya itu baik secara sindiran atau terang-terangan [ lihat : Mukhtashor Minhajul Qosidin, Ibnu Qudamah AL Maqdisi hal 280].
Diriwayatkan bahwa Abu Umamah Al Bahili pernah mendatangi seseorang di amjid yang sedang bersujud sambil menagis ketika berdoa, kemudian Abu Umamah mengatakan kepadanya:” Apakah engkau lakukan seperti ini jika engkau sholat dirumahmu? (teguran semacam ini dimaksudkan untuk menghilangkan sikap riya’[Lihat : Al kabair, Imam Adz Dzahabi hal 211]

Jebakan dan Peringatan
Terkadang seorang hamba bersungguh-sungguh untuk membersihkan diri dari riya’ namun ia terjebak dan tergelincir di dalamnya sehingga ia meninggalkan amal karena takut riya’.
Jika ada seorang meninggalkan amal yang baik dengan maksud supaya terhindar dari riya’, maka tidak ragu lagi bahwa sikap ini adalah sikap yang salah dalam menghadapi riya’. Fudlail bin Iyadl menjelaskan,” Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sedangkan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas itu adalah Allah menyelamatkan kita dari keduanya.”
Imam Nawawi menjelaskan,” perkataan Fudlail bahwa orang yang meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sebab ia melakukannya karena manusia, adapun kalau meninggalkannya karena ingin melakukannya di saat sepi atau sendirian maka diperbolehkan dan ini sunnah, kecuali dalam perkara yang wajib seperti sholat wajib lima waktu, atau zakat atau ia seorang yang alim yang menjadi panutan dalam ibadah, maka menampakkannya adalah afdla (utama). [ Lihat : Syarh Arba’in Imam Nawawi hal 6]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Majmu fatawa 23/175-175,”Barangsiapa melakukan amal rutin yang disyariatkan seperti sholat dluha, qiyamul lail, maka hendaklah dia tetap melakukannya dan tidak semestinya ia meninggalkan kebiasaaan ini hanya karena berada di tengah manusia, hanya Alloh Azza wa Jalla yang mengetahui rahasia hatinya bahwa ia melakukannya karena Allah dan ia bersungguh-sungguh berusaha agar ia selamat dari riya’ dan dari hal-hal yang merusak keikhlasan.” Kemudian beliau membawakan perkataan Fudlalil bin Iyadh seperti diatas, selanjutnya beliau mengatakan,” Barangsiapa melarang sesuatu yang disyariatkan hanya berdasarkan anggapannya bahwa hal itu tertolak berdasarkan beberapa alasan sebagai berikut:
1. Amal yang disyariatkan tidak boleh dilarang hanya karena takut riya’. bahkan diperintahkan untuk tetap melakukannya dengan ikhlas. Bila kita melihat seorang yang mengamalkan syariat kita harus menetapkan bahwa dia melakukannya (atau membiarkannya) kendatipun kita dapat memastikan ia berbuat dengan riya’. Seperti halnya orang-orang munafik yang Allah berfirman tentang mereka,” Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri sholat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” [QS An Nisa’ 142]. Mereka orang-orang munafik sholat bersama Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , Beliau dan para Shohabat rodliallohu anhum membiarkan amal yang mereka (para munafik) berbuat itu dengan riya’ dan tidak melarang perbuatan dhahir mereka, artinya para Shohabat rodliallohu anhum tidak melarang mereka sholat bersama Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam . Hal ini karena kerusakan meninggalkan syariat yang mesti ditampakkan jauh lebih berbahaya daripada menampakkan amal tersebut dengan riya’. Sebagaimana meninggalkan iman dan Sholat lima waktu lebih besar bahayanya dibanding dengan meninggalkan amal itu dengan riya’.
2. Pengingkarang hanya terjadi pada apa yang diingkari oleh syariat. Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,”Sesungguhnya aku tidak diperintahkan unutk membongkar/memeriksa hati mereka dan tidak pula untuk membedah perut mereka.” [HSR Akhmad dan Bukhori dari Abu Said Al Khudri -Rodliallohu anhu-]. Umar bin Khattab -Rodliallohu anhu- mengatakan,” Barangsiapa menampakkan kebaikan kami akan mencintainya meskipun hatinya berbeda dengan itu dan orang yang menampakkan kejelekannya, kami akan membencinya meskipun ia mengaku bahwa hatinya baik.”
3. Sesungguhnya membolehkan pengingkaran terhadap hal seperti itu justru akan membuka peluang kepada Ahlus syirk wal fasad [orang yang berbuat syirik dan kerusakan) untuk mengingkari alul khoir wad dien (orang yang berbuat kebaikan). Apapbila mereka melihat orang yang melakukan perkara yang disyariatkan dan disunnahkan, mereka berkata,” Orang ini telah berbuat riya’”. lalu karena tuduhan ini , orng yang jujur dan ikhlas akan meninggalkan perkara-perkara yang disyariatkan karena takut ejekan dan celaan dan tuduhan mereka. Lantas terbengkalailah amal-amal kebaikan dan tidak terlaksana. Kemudian hal ini menjadi senjata bagi orang-orang yang berbuat syirik untuk tetap melakukan kerusakan dan tidak ada yang mengingkarinya. hal ini justru kerusakan yang lebih besar.
4. Sesungguhnya hal seperti ini adalah syiar (semboyan) orang-orang munafik. Mereka selalu mencela amal yang disyariatkan. Alloh Azza wa Jalla berfirman,” (orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi shodaqoh dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih.” [QS At taubah : 79].

Jumat, 25 Maret 2011

HALAWAH AL IMAN (MANISYA IMAN)

HADIST UMUM
HALAWA AL IMAN ( manisnya iman)
OLEH
TANCE PUTRA




Kini kita akan memasuki pembahasan hadits Shahih Bukhari ke-16. Pembahasan hadits ke-16 ini kita beri judul “Manisnya Iman”. Terjemah dari judul yang telah diberikan oleh Imam Bukhari yaitu باب حَلاَوَةِ الإِيمَانِ. Hadits ini masih termasuk dalam kitab Al-Iman, kitab kedua dalam Shahih Bukhari.

Berikut ini matan lengkap hadits Shahih Bukhari ke-16:
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

Dari Anas, dari Nabi SAW beliau bersabda: "Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka."

Penjelasan Hadits
قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ
Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman

Dalam hadits ini dipakai istilah حَلاَوَةُ الإِيمَانِ (manisnya iman). Dalam ilmu balaghah, istilah seperti ini disebut isti'arah takhyiliyyah, yaitu majaz (kiasan) yang dibangun dari tasybih (penyerupaan) imajinasi. Semacam majas metafora dalam bahasa Indonesia. Bahwa iman itu terasa manis. Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, ini mengindikasikan bahwa tidak semua orang bisa merasakannya. Sebagaimana manisnya madu hanya akan dirasakan oleh orang yang sehat, sedangkan orang yang sakit kuning tidak mampu merasakan manisnya. Demikian pula manisnya iman. Ia hanya didapatkan oleh orang-orang yang imannya "sehat". Diantaranya adalah yang memenuhi kriteria yang disebutkan dalam penggalan hadits berikutnya. Manisnya iman (حَلاَوَةُ الإِيمَانِ) juga mengingatkan kita ibarat pohon, iman itu memiliki buah manisnya bisa dirasakan oleh seorang mukmin. Tentu saja pohon baru bisa berbuah ketika akarnya teguh dan pohonnya kuat. Jadi ia tidak mudah dirasakan oleh setiap orang.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ * تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim : 24-25) Sebagian ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan manisnya iman (حَلاَوَةُ الإِيمَانِ) merasakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan merasakan lezatnya kecintaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا
menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya Inilah hal pertama yang membuahkan manisnya iman: mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi selainnya. Seorang mukmin haruslah menyempurnakan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, baru ia mendapati manisnya iman. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tidak cukup hanya sekedarnya, tetapi harus melebihi dari yang selainnya. Manusia akan merasakan kebahagiaan besar ketika sedang mencintai. Maka manisnya iman menjadi buah yang dirasakan seorang mukmin ketika ia mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sempurna. Inilah yang menjelaskan mengapa Bilal sanggup menahan panasnya pasir dan terik surya, beratnya batu yang menindihnya, serta hinaan menyakitkan Umayyah dan kawan-kawannya. Dalam kondisi demikian, Bilal tetap melantunkan manisnya iman melalui lisannya: "ahad, ahad..." Manisnya iman buah cinta ini pula yang membuat Khabab bin Al Art seakan tak merasakan luka-luka menganga di tubuhnya yang disalib. Maka ketika diminta pendapatnya bagaimana jika Rasulullah yang menggantikannya, ia menjawab dalam nada manisnya iman: "Bahkan aku tak rela jika kaki Rasulullah tertusuk duri"
Dalam manisnya iman pula, sahabat-sahabat Ansar rela pulang tangan kosong tanpa ghanimah dalam Perang Hunain. Isak tangis mengharu biru ketika mereka tersadar bahwa Rasulullah hendak meneguhkan Islam para muallaf Makkah. Sementara mereka pulang membawa Rasulullah, biarlah orang lain pulang membawa unta dan kambing.
وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ
Dan mencintai seseorang semata-mata karena Allah Jika kecintaan kepada Allah adalah yang pertama dan tidak boleh terkalahkan oleh selainnya, demikian pula Rasulullah sebagai manusia yang paling dicintai, bukan berarti kita tidak diperkenankan mencintai sesama. Cinta itu fitrah manusia. Maka mencintai kedua orang tua, anak, saudara, sahabat, dan sesama mukmin juga dibutuhkan. Dan tatkala cinta itu karena Allah semata, maka iman akan manisnya iman akan bisa dirasakan. Generasi pertama umat ini adalah generasi yang sukses dalam membina cinta karena Allah ini. Maka dengan cinta lillah, suku Aus dan Khazraj yang semula bermusuhan menjadi bersaudara di bawah satu bendera: Ansar. Pada saat itu, mereka merasakan manisnya iman. Lalu, muhajirin dan anshar yang belum pernah bersua pun, tiba-tiba menjadi saling berbagi. Membagi harta menjadi dua, membagi kebun dan rumah agar bisa sama-sama hidup layak dalam perjuangan bersama. Pada saat itu, mereka merasakan manisnya iman.
وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
Dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka Jika dua hal yang pertama adalah pekerjaan mencintai, hal ketiga yang membawa manisnya iman ini adalah pekerjaan sebaliknya: membenci. Yakni membenci kekufuran. Khususnya kekufuran yang telah ditinggalkannya dan diganti dengan Islam.

Dalam riwayat Muslim, redaksi hadits tentang manisnya iman (حَلاَوَةُ الإِيمَانِ) ini pada poin ketiga berbunyi :
وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Dan benci kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah, sebagaimana kebenciannya dilempar ke dalam api neraka  Dan itulah yang, lagi-lagi, kita dapati pada generasi sahabat Nabi. Maka ketika Sayyid Quthb memotret tiga karakter sahabat yang menjadi faktor utama keberhasilan mereka, salah satunya ia catat: "Saat mereka masuk Islam dan mendapat Al-Qur'an seketika mereka melepas seluruh kejahiliyahan" Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan juga mengingatkan para sahabat agar jangan sampai kembali kepada kejahiliyahan, meskipun hanya sebagian sifatnya. Maka Rasulullah mengingatkan kaum Anshar ketika hampir saja mereka bermusuhan kembali antara suku Aus dan Khazraj seperti perang bu'ats. Rasulullah juga pernah mengingatkan Abu Dzar tatkala berselisih dengan Bilal lalu mencelanya dengan nada sentimen kesukuan. "Sungguh dalam dirimu ada perilaku jahiliyah" tegur Rasulullah yang selalu dikenang Abu Dzar. Dan sejak saat itu ia lebih mencintai dan menghormati Bilal.

Pelajaran Hadits
Diantara pelajaran hadits yang bisa kita ambil dari hadits di atas adalah sebagai berikut:
1. Bolehnya memakai majaz dalam menasehati, memberi pelajaran, dan dakwah dengan tujuan agar lebih mudah dipahami dan diterima pelajarannya;
2. Iman memiliki buah yang manis yang bisa dirasakan mukmin ketika memenuhi kriteria atau syarat-syaratnya, sebaliknya tidak semua orang bisa merasakan manisnya iman ini;
3. Manisnya iman bisa dirasakan seorang mukmin yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi selainnya, mencintai orang lain karena Allah semata, dan membenci kembali kepada kekufuran.

Kata kunci

  1. mencintai Allah dan rasullnya diatas segalanya
  2. mencintai seorang perempuan karena Allah
  3. benci kepada kekafiran

MENCINTAI ALLAH DAN RASULLNYA DIATAS SEGALANYA

Nabi bersabda : Man Ahabba Syaian katsuro dzikruhu HR. Turmuzi.
Artinya : Barangsiapa dia cinta sesuatu pasti ia akan banyak mengingatnya

Cinta adalah sesuatu yang abstrak, yang tidak teraba akan tetapi terasa oleh setiap orang yang mengalaminya. Para ulama dari dahulu sampai sekarang merasa kesulitan untuk mendefinisikan apa arti cinta itu sendiri. Imam Nawawi mendefinisikan cinta dengan kalimat mailunnafsi ala syaiin ( condongnya jiwa kepada sesuatu ).
Pada dasarnya Allah swt menganugerahkan manusia Rahmat ( cinta ) ke dalam hati manusia dengan tujuan agar manusia bisa saling mencintai, mengasihi dan menyayangi karena Allah semata. Bukan karena yang lain, sebab cinta karena Allah menghasilkan pengabdian dan pengorbanan sementara cinta karena yang lain hanya akan menghasilkan perselingkuhan.
Nabi Muhammad Saw dalam hadis shahih muslim menegaskan bahwa barangsiapa yang apabila didalam hatinya ada tiga perkara ini, maka ia telah merasakan manisnya iman. Pertama yaitu apabila Allah dan RasulNya lebih ia cintai dibanding yang lainnya, kedua apabila seseorang mencintai orang lain hanya karena Allah semata, ia bersatu dan berpisah karena Alloh dan ketiga apabila ia takut untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana takutnya ia apabila ia dilemparkan ke dalam neraha..(HR. Muslim )
Hadist di atas menekankan bahwa cinta kepada Allah dan RasulNya harus diletakkan di atas segalanya, termasuk kecintaan kepada anak, suami maupun istri. sebab hanya dengan mencintai Allah dengan sebesar-besarnya, manusia akan mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Akan tetapi pada kenyataannya, banyak orang yang mengaku bahwa ia mencintai seseorang karena Allah namun ternyata cinta yang tumbuh dalam hatinya tersebut tidak membuat ia bertambah mulia dimata Allah, tapi justru menjadikan ia semakin hina dan nista dimataNya. lalu bagaimana kita harus mencintai Alloh...??? Al Qur'an menegaskan : "Katakan wahai Muhammad, apabila kalian semua mencintai Allah, maka ikutilah aku, maka Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian...ternyata sederhana cara kita harus mencintai Allah, yaitu cukup mengikuti apa yang diajarkan dan di contohkan oleh Rasulullah saw. Mengaplikasikan ajaran-ajarannya, mengerjakan amalan-amalannya serta mengikuti kebiasaan-kebiasaannya dalam kehidupan sehari-hari.Senantiasa mengingat Allah, baik disaat sempit maupun lapang serta selalu menyebut namanya dalam segala aktifitas kita. bibir akan selalu basah oleh kalam-kalam suci dan hati akan terisi oleh gemuruh kerinduan kepadaNya.

MENCINTAI SEORANG PEREMPUAN KARENA ALLAH
Dan dia (iman) itu perkataan dan perbuatan,kemudian bertambah dan berkurang Firman Allah SWT {supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka(yg sudah ada)Al-fath: 4} {dan kami tambahkan kepada mereka Hidayah(al-kahfi:13)}{Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk (maryam:76){Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka (Muhammad:17)}{supaya orang yang beriman bertambah imannya (Al-Mudatsir 31)}dan firmannya{Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya(at-Taubah 124)} dan firman Allah SWT {tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan(Al-ahzab 22)} dan kecintaan karena Allah serta kebencian karena Allah adalah dari iman. Umar bin Abdil Aziz menulis untuk Adiy bin Adiy bahwa iman itu memiliki Fardu (wajib),syariat (cara), hudud(batasan2) dan sunnan(sunnah2) maka barang siapa menyempurnakan maka sempurnalah imannya, dan barang siapa belum menyempurnakannya maka belum sempurnalah imannya, maka jika aku masih hidup aku akan menerangkannya kepada kalian sampai kalian mengetahuinya, tetapi jika aku wafat maka aku menyertai kalian dengan kehati-hatian. Ibrahim menjawab: {“Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)(Al-baqoroh 260)} kemudian Mu’ad berkata “duduklah bersama kami beriman beberapa saat”. Ibnu mas’ud berkata “keyakinan itu adalah Iman keseluruhan. Ibnu umar berkata “Seorang hamba tidak mencapai hakikat ketakwaan sampai membiarkan apa yg bercerita didalam dada. Mujahid berkata “{telah mensyari’atkan bagi kamu(As syuro 13)} aku wasiatkan kepadamu wahai Muhammad dan kepadanya (Nuh) satu Agama”. Ibnu Abbas berkata “{ Syari’at dan Manhaj(aturan dan jalan yang terang) (al-maidah 48 ) Jalan dan Sunnah. (HR Bukhori) Dalam kitab fathul Baari karya Ali ibnu Hajar Al-atsqolani, bahwasanya hadits “Dan cinta karena Allah dan Membenci karena Allah adalah dari Iman” ini lafat hadits dilkeluarkan oleh abu Dawud dari haditsnya Abi amamah, sementara dari hadits Abi Dzar lafatnya “افضل الأعمال الحب في الله و البغض ف الله” (Amal yg paling afdhol adalah Cinta karena Allah dan Kebencian karena Allah). imam ahmad juga mencatat dari Abi amamah tetapi ditambahka و نصح لله dan bernasehat karena Allah kemudian yg lainnya dan menambahkan dan bekerja lisannya dalam mengingat Allah)
Dari sekilas, hadits beserta keterangannya dari Fathul Baari di atas, bisa kita simpulkan bahwa sebaik-baiknya pekerjaan adalah iman kepada Allah. Hadits diatas menerangkan bahwa ketika kita mencintai sesuatu seperti: wanita, harta, jabatan, atau apa saja itu karena Allah, dan ketika melihat segala sesuatu yg diridhoi Allah dicintai Allah, semestinya seorang beriman juga mencintai karena Allah, maka itulah tanda keimanan pada diri kita, semakin cinta kita pada hal yang dicintai Allah semakin kuat iman kita kepada Allah. Allah cinta pada Rosulullah, menyukai perdamaian, suka pada silaturrahmi persaudaraan dll, demikian pula semestinya kita mengikuti perintahNYA.
Demikian pula ketika ada sesuatu yg tidak disukai Allah, atau dimurkai Allah, maka menjadi tanda keimanan kita, jika kita juga membencinya, tidak menyukainya karena Allah, tetapi jika kita membenci sesuatu yg Allah cintai, justru itu kebalikan dari iman. Segala kebaikan telah diperintahkan Allah dan kejahatan telah dilarang oleh Allah dan bagiannya telah jelas, yaitu kejahatan/keburukan wajib kita benci karena Allah dan kebaikan/kebenaran wajib kita cintai karena Allah itulah iman.
Barangsiapa membuatbuat hal baru(memberi contoh) yang baik dalam islam, maka bagingya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barang siapa membuat-buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya dan tidak dikurangkan sedikitpun dari dosanya (shohih Muslim No.1017)
Dari hadits diatas jelas bahwa segala kebaikan telah diperintahkan Allah sementara keburukan telah dilarang dalam Islam, tetapi tak jarang kita bingung ada satu kebaikan menurut pandangan kita, tetapi meurut orang lain dianggap sebuah keburukan? maka ulama’ menyatakan bahwa: “asal segala sesuatu adalah boleh kecuali ada nash shorih yg menyatakan pelarangannya, dan asal ibadah itu tidak boleh kecuali ada nash yg jelas memerintahkannya”
Jadi jelas ketika kita mendapatkan hal yg kita bingung ada yg membolehkan dan ada yg melarangnya, maka kita kembalikan hal tersebut merupakan hal ibadah atau bukan? untuk mengetahuinya hal ibadah yg terperintahkan adalah terdapat tatacara dan terdapat rukun dan syaratnya, seprti Sholat, Haji, Puasa dll. tetapi jika hal itu tidak ada rukun syaratnya maka hal itu adalah amalan keseharian manusia, seperti makan, minum, silaturrahmi, siskamling, kumpul arisan, kumpul keluarga, sekolah, belajar dll.
Ketika ada hal kegiatan baru yg diperselisihkan seperti tahlilan, maulid nabi, isro’ mi’roj, maka hal tersebut kita bisa lihat adakah kegiatan tersebut rukun atau syarat tertentu yang menentukan syah atau tidaknya? jika tidak berarti itu kegiatan masyarakat biasa dan boleh atau tidaknya kita lihat didalam kegiatan tersebut ada hal yg dilarang syariat atau tidak, jika tidak maka boleh, jika ada yg dilanggar syariat seperti mabuk, atau motong kurban yg kepala kerbaunya dipendam dalam tanah untuk tumbal ini tidak boleh, tetapi kalau masak bersama untuk bersama atau sedekahan, itu tidak melanggar syariat dan boleh adanya.
Kemudian ketika ada sesuatu pelarangan dalam sesuatu amalan tetapi ada yg tidak melarang artinya hal tersebut belum mencapai kesepakatan, maka hal tersebut blm shorih(jelas) atau sesuatu anjuran dalam ibadah kemudian hal tersebut ada yg mengatakan tidak ada dalilnya maka hal tersebut adalah dalam perselisihan, untuk itulah kita membutuhkan orang yang mengerti benar2 dalam masalah2 ini, dan dari orang yg mengerti banyak dlm hal tersebut diatas terdapat mujtahid yg terkenal ada 4 imam madzhab yaitu hanafi maliki syafi’ie dan hambali, syarat menjadi mujtahid sendiri harus hafal minimal 600 ribu hadits menurut imam malik, jadi imam madzhab (mujtahid) fuqoha’ sudah tentu seorang muhaddits(ahli hadits).
BENCI KEPADA KEKAFIRAN
Hadits yang akan kita bahas ini masih termasuk dalam kitab Al-Iman, kitab kedua dalam Shahih Bukhari. Bagi pembaca yang mengikuti rubrik hadits ini secara rutin, insya Allah tidak akan asing dengan hadits berikut ini, karena ia memiliki matan (redaksi) yang sama dengan salah satu hadits sebelumnya. Imam Bukhari memberikan judul bab untuk hadits ke-21 ini " باب مَنْ كَرِهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِى النَّارِ مِنَ الإِيمَانِ". Mengambil makna dari sana, kita singkat judul pembahasan hadits Shahih Bukhari ke-21 ini menjadi: "Benci Kekafiran".

Berikut ini matan lengkap hadits Shahih Bukhari ke-21:

عَنْ أَنَسٍ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِى النَّارِ

Dari Anas r.a., dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda: "Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka."
Penjelasan dan Pelajaran Hadits Jika kita perhatikan, tampaklah bahwa matan (redaksi) hadits di atas sangat mirip dengan hadits ke-16: manisnya iman. Imam Bukhari memang seringkali membawakan hadits yang matan (redaksinya) mirip atau bahkan sama di dua atau lebih tempat (bab, bahkan kitab) yang berbeda. Karenanya kemudian ada ulama seperti Imam Adz-Dzahabi atau Syaikh Al-Albani yang membuat mukhtashar (ringkasan) Shahih Bukhari. Mukhtashar-mukhtashar itu biasanya hanya menyertakan satu hadits sekali saja. Tanpa mengulangnya. Namun demikian, Imam Bukhari memiliki maksud tersendiri ketika menempatkan hadits dengan matan serupa di tempat yang berbeda. Pertama, karena hadits tersebut mengandung pelajaran yang tidak cukup hanya dipaparkan pada satu bab saja. Kenyataannya, memang banyak hadits Nabi yang memuat sejumlah kandungan berbeda. Ia berbicara tentang aqidah, sekaligus juga menerangkan tentang ibadah dan akhlak, misalnya. Kedua, Imam Bukhari berkeinginan agar umat Islam yang mempelajari kitab shahihnya mendapatkan penekanan kembali mengenai hal yang sangat penting, yang dirasa kemanfaatannya sangat banyak jika hadits dengan matan yang mirip itu ditampilkan. Kemungkinan hal kedua ini yang menjadi alasan hadits ke-21 yang mirip dengan hadits ke-16 ini sama-sama dimuat dalam Kitabul Iman. Karenanya Imam Bukhari memberikan judul yang berbeda. Ketiga, Sesungguhnya Imam Bukhari tidak pernah mengulang hadits dengan matan dan sanad yang sama persis. Kalaupun matannya sama, sanadnya pasti berbeda. Demikian pula dengan hadits ini. Meskipun hadits ke-21 dan hadits ke-16 diriwayatkan dari Anas r.a namun perawi sesudahnya (sampai bersambung ke Imam Bukhari) berbeda. Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, hadits ke-21 ini diriwayatkan oleh para perawi yang semuanya adalah orang-orang Bashrah. Karena matan hadits ke-21 ini tidak jauh berbeda dengan hadits ke-16: manisnya iman, maka pembaca bisa membaca hadits ke-16: manisnya iman, untuk melihat penjelasan dan pelajaran hadits.


KESIMPULAN
jadi siapa yang ingin merasakan manisnya iman maka cintailah Allah dan Rasulnya melebihi apapun.. Dan menjalin cinta dengan perempuan juga karena allah, dan bencilah kepada orang yang mengajak kepada kekafiran.

Jumat, 18 Maret 2011

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI) CURUP: bargeraklah

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI) CURUP: bargeraklah

bargeraklah

BERGERAKLAH SEKARANG JUGA !!!!
PESAN DARI IKHWAN...
Tance Putra

Imam Syafi’i pernah berkata:
“Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan.
Seandainya mengalir dia menjadi jernih,
jika tidak dia akan keruh menggenang.

Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan,
Jika dibawa ke kota berubah mahal jadi incaran hartawan.

Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang.
Anak panah jika tidak dilepaskan busur tak kan kena sasaran.

Jika saja matahari tak bergerak dan terus diam,
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman,
Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang”

Untuk itu..BERGERAKLAH..sahabatku !

Sekalipun besok hari kiamat,
kita diperintahkan untuk tetap bergerak dan beraktifitas.

Baginda Rasululllah shalallaahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنْ قَامَتِ السَّاعَة ُوَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيْلَة ٌفَاسْتَطَاعَ أَلاَّ تَقُوْمَ حَتَّى يُغْرِسَهَا فَلْيُغْرِسْهَا فَلَهُ بِذاَ لِكَ أَجْرٌ

“Jika Kiamat datang, sementara di tangan salah seorang diantaramu ada sebuah biji Kurma, lalu ia mempunyai kesempatan untuk menanamnya sebelum Kiamat terjadi, maka hendaklah ia tanamkan, karena dengan demikian ia akan mendapatkan pahala.”
(Hadits ini dikeluarkan oleh Ali bin Abdil ‘Aziz dlm al-Muntakhab dg isnad yg hasan dari Anas ra.
Juga kitab ‘Umdatul Qari’ fi Syarhin Shahihil Bukhari oleh Syaikh Badaruddin al ‘Aini, bab al-Hartsu waz Zira’ah)

Ketika kita bergerak, kemudian mengalami benturan “BADAI”,
itu sesuatu yang wajar sahabat...

Grace Hopper mengatakan :
“A Ship in port is safe, but this not what ships are built for!”.
Memang aman kalau kapal cuma bersandar di pelabuhan,
Namun bukan untuk itu dia diciptakan !!!

BADAI ujian adalah sesuatu yang sangat wajar,
Sebagaimana juga kita sekolah.
Maka kita juga pernah mengalami “BADAI” ujian.
Setelah badai berlalu, maka nikmat “KELULUSAN” akan kita dapatkan

Semakin banyak rintangan dalam bergerak,
Semakin TANGGUH dan TEGARLAH kita.
Semakin banyak kesedihan yang kita jumpai,
Semakin LEMBUTLAH kita...
Dan semakin banyak PAHALA, ILMU dan CAHAYA kita dapatkan.

Semakin banyak BERGERAK dan semakin banyak LULUS badai ujian,
maka juga akan membuat semakin CEMERLANG pribadi kita...
Sehingga kita bisa menjadi pribadi yang BERCAHAYA...
Bukankah kita sering melihat SINAR OBOR yang begitu cemerlang...
dari para tokoh setelah mereka bergerak dan mengalami badai ujian.

Boleh jadi kita belum bisa seterang OBOR para tokoh,
Namun minimal bisa seperti KUNANG-KUNANG...
yang mampu membuat malam menjadi semakin INDAH.

Minggu, 26 Desember 2010

KADER MILITANSI

 

ilmu pendidikan islam

oleh steofandi fizari
(tulisan ini merupakan tugas resume dari mata kuliah ilmu pendidikan islam)
PENGERTIAN DAN RUANGLINGKUPPENDIDIKAN ISLAM
Pengertian ilmu” pengetahuan yang disusun secara sistematis, rasional, empiris dan universal. Pendidikan menurut Abdullah Rahman An-Nahlawi berasal dari kata Tarbiyah:
-­rabb yarbuu: bertambah dan tumbuh
-Rabiya yarbu: tumbuh dan berkembang
-Rabba yarbu: memperbaiki. Menguasai, memimpin, menjaga dan memelihara;
Adapun makna tarbiyah:
-Memelihara fitrah manusia
-Menumbuhkan seluruh bakat dan kesiapannya
-Mengarahkan fitrah dan seluruh bakatnya agar menjad agar baik dan sempurna
-Bertahap dalam proses
Pendidikan adalah
oProses yang mempunyai tujuan
oPendidik yang sebenarnya adalah Allah karena Dialah yang menciptakan fitrah manusia
oPandidikan menghendaki penyusnan langkah-langkah sistematis yang harus dilalui secara bertahap oleh berbagai kegiatan pendidikan dan pengajaran
oPendidikan harus mengikuti hukum-hukum pencipta dan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah
Makna ta’lim menurut Abdul Fattah:
oProses pembelajaran secara terus menerus sejak manusia lahir melalui pengembangan fungsi-fungsi pendengara, penglihatan dan hati
oProses ta’lim tidak berhenti pada pencapaian pengetahuan pada wilayah kognisi semata, melainkan wilayah psikomotor dan efeksi.
Makna ta’tib menurut Naquib Al-Attas:
oPengenalan dan pengakuan tentang hakikat pengetahuan
oBerhubungan dengan kapasitas dan potensi jasmani, intelektual dan rohani
oPerpaduan antara pengertian ilmu dan amal
Perbedaan tarbiyan, ta’lim dan ta’dib:
oTarbiyah, proses pembinaan dan pengarahan bagi pembentukan mental dan kepribadian
oTa’lim, proses pemberian bekal pengetahuan
oTa’dib, pross pembinaan terhadap sikap moral dan etika dalam kehidupan yang lebih mengacu pada peningkatan martabat manusia
Jadi ilmu pendidikan islam adalah
1.Ilmu tentang mendidik agar manusia beragama islam
2.Ilmu pendidikan yang berdasarkan islam
Konsep dasar pendidikan islam yakni usaha, kemanusiaan, perkembangan, proses, bimbingan oleh manusia secara sadar.
Ruang lingkup pendidikan islam ada tujuh:
1.Kehidupan beragama, agar perkembangan pribadi manusia sesuai dengan norma islam
2.Kehidupan keluarga, agar perkembangan menjadi keluarga sejahtera
3.Kehidupan sosial, agar dapat berkembang menjadi sistem bebas dari penghisapan manusia lain
4.Kehidupan politik, agar tercipta sistem demokrasi yang sehat dan dinamis sesuai dengan islam
5.Budaya, agar menjadi manusia penuh keindahan dan kegairahan dengan nilai norma
6.Ekonomi, terbina masyarakat yang adil dna makmur dengna ridha Allah SWT
7.Pengetahuan, bertujuan agar berkembang menjadi alat untuk menapai kesejahteraan umat manusia yang dikendalikan oleh iman
DASAR DAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Adalah merupakan landasan operasional yang digunakan untuk merealisasikan dasar ideal atau sumber pendidikan islam
Adapun dasar pendidikan islam ada dua:
1.Dasar ideal, Al-Qur’an dan Al-Hadis
2.Dasar operasional,
-Historis
-Filosofis
-Ekonomi
-Politik
-Sosiologis
-Psikologis
Tujuan pendidikan islam:
Tujuan, batas akhir yang dicita-citakan dan dijadikan pusat perhatian untuk dicapai. Tujuan pendidikan, batas akhir melalui usaha pendidikan, ada empat:
-Nasional, mencerdaskan kehidupan berbangsa, mengembangkan potensi dll
-Institusional, tujuan yang dicapai oleh sebuah lembaga, PT, dll
-Kurikulum, tujuan yang dicapai oleh suatu mata pelajaran atau kuliah
-Intruksional, tujuan yang ingin dicapai dari setiap penyabaran meteri
Jadi tujuan pendidikan islam menurut M. Athiyah Al-Abrasyi:
1.Tujuan tertinggi, tercapai akhlak yang sempurna
2.Tujuan umum,
3.Tujuan akhir, menjaid manusia sebagai makhluk yang bertaqwa dan meninggal dalam keadaan beragama islam
PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM
Prinsip pendidikan adalah Sebuah pegangan yang dipakai dalam kegiatan yang diyakini akan kebenaranya. Beberapa hal yang berkaitan dengan prinsip pendidikan yakni:
1.Prinsip Berwawasan Nilai
2.Prinsip Percaya pada Diri Sendiri
3.Prinsip Kebebasan untuk Memilih
4.Prinsip Kreatif
Menurut Athiyah al-Abrasyi yang bermakna:
·Mengajarkan berfikir bebas
·Mandiri dalam belajar
·Kemerdekaan dan demokrasi dalam mengajar
·Sistem belajar secara perseorangan
·Perhatian terhadap perbedaan individu
·Perhatian terhadap bakat dan fitrah anak
·Berbicara sesuai dengan akalnya
·Bergaul dengan baik dan kasih sayang
·Memperhatikan pendidikan akhlak
Menurut Abudin Nata prinsip secara pendidikan islam ada lima, yaitu:
¬Prinsip tujuan
1.Universal
2.Keseimbangan dan kesederhanaan
3.Kejelasan
4.Realisme dan realisasi
5.Dinamisme
¬Prinsip metode
1.Sesuai dengan psikologi anak
2.Sesuai dengan tujuan pelajaran
3.Memelihara tahap kematangan
4.Partisipasi praktikal (amal)
¬Prinsip kurikulum
1.Ruh Islamiyah
2.Universal
3.Balancing (Keseimbangan)
4.Sesuai dengan perkembangan psikologis anak
5.Memperhatikan lingkungan sosial masyarakatnya
¬Prinsip evaluasi
1.Objektifitas
2.Keadilan
3.Kejujuran
4.Keterbukaan
¬Prinsip hubungan guru-murid
1.Humanistik (Kemanusiaan)
2.Egaliter (Kesederajatan dalam pembelajaran)
3.Demokratis
SUMBER-SUMBER PENDIDIKAN ISLAM
1.Al-Qur’an
Merupakan sumber pendidikan utama bagi setiap muslim, sesungguhnya Allah telah memberikan pengetahuan dan pelajaran melalui wahyuyakni Al-Qur’an, dimana menduduki tempat paling utama dalam pengambilan sumber pendidikan islam.
2.Al-Sunnah
Sunnah merupakan manivestasi atau penafsiaran Al-Qur’an yang paling baik, yakni berupa perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi dimana dijadikan sumber pendidikan islam.
Adapun kedudukannya
·Menjelaskan ayat Al-Qur’an dengan mengukuhkan atau memperkuat apa yang sudah dijelaskan Al’Quran
·Menjelaskan ayat Al-Qur’an dengan merinci, membatasi atau menjabarkan ayat Al-Qur’an yang sifatnya masih global
3.Kata-kata sahabat
Sahabat adalah orang yang paling dekat dan bertemu langsung dengan Nabi, sehingga perkataan mereka dapat juga dijadikan sumber pendidikan islam
4.Kemashalatan masyarakat
Maksudnya adalah suatuyang membawa manfaat dan menjauhkan dari mudarat, kemashalatan berkembang dan berubah sesuai dengan zaman dan berbeda menurut tempat.
5.Nilai-nilai adat istiadat dan kebiasaan sosial
Berkaitan bawa pendidikan adalah usaha memelihara, pengembangan dan pewarisan nilai-niai budaya atau kebiasan sosial masyarakat yang positif.
6.Hasil pemikiran-pemikiran dalam islam
Seperti pemikiran para filosofi, pemikir dan intelek muslim khususnya dalam bidan pendidikan dapat menjadi referendi pengembangan pendidikan islam.
KARAKTERISTIK PENDIDIKAN ISLAM
1.Penguasaan ilmu pengetahuan
2.Pengembangan ilmu pengetahuan
3.Penekanan pada nilai akhlak
4.Pengabdian kepada Allah dan kemashalatan
5.Penyesuaian pada pengembangan anak
6.Penekanan pada amal shaleh dan tanggung jawab
Perbedaan pendidikan islam dengan pendidikan umum:
Pendidikan Islam
Pendidikan Umum
·Pendidikan Islam merupakan bagian yang integral bagi masyarakat. Lembaga pendidikannya berkembang secara alami dari masyarakat, memenuhi kebutuhan dan permintaan masyarakat.
·Lembaga-lembaga pendidikan Islam menempatkan moral dan latihan keagamaan pada tempat tertinggi di atas program pendidikan mereka
·Pendidikan Islam luwes dalam hal peserta didik atau kelompok usia didik. Tanpa memandang usia, seseorang boleh mengikuti kelas yang dia pilih dan pindah ke kelas yang lebih tinggi ketika ia merasa bisa.
·Dalam pendidikan Islam tidak ada ujian umum. Siswa naik ke tingkat pendidikan yang dia kehendaki dan perkembangannya diawasi dan dievaluasi secara dekat oleh guru
·Pendidikan Islam memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk memilih jurusan yang diminati dan mengembangkan pengetahuannya tanpa halangan.
·Lembagapendidikan slambercerminkan kemanusiaan dan kesederhanaan masyarakatnya
·Sistem pendidikan Islam berdasarkan pada kedalaman hubungan personal. Pendidik merupakan sumber spiritual dan pembimbing professional
·Lembaga pendidikan Islam lebih mewarisi budaya masyarakat
·Pendidikan umumdalam bentuk sekolah diciptakan oleh pemerintah, dimana para siswa dipaksa untuk mengikuti. Karenanya tidak menggambarkan aspirasi dan kepentingan masyarakat.
·Lembaga-lembaga pendidikan umum kebanyakan telah mengadopsi pandangan sekuler yang lebih mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dengan melupakan aspek-aspek pendidikan yang lebih penting yaitu akhlak dan budi pekerti
·Dalam pendidikan umum, peserta didik diatur menurut usia dan jenjang pendidikan, mulai dari paud, pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi
·Pendidikan umum menerapkan sistem ujian. Untuk mengetahui hasil belajar dan menentukan tingkat pendidikan, siswa harus menjalani ujian dalam waktu yang sudah ditentukan
·Pendidikan umummewajibkan peserta didik untuk merencanakan program pendidikan secara seksama setiap saatnya
·Lembaga pendidikan umum merupakan gambaran masyarakat industri Barat. Para siswa diperlakukan seolah-olah mereka adalah objek produksi
·Pada sistem pendidikan umum,fungsi guru lebih merupakan profesional, dilihat dari keahlian (skill) ketimbang moral dan etika.
·Pendidikan umum menjadi sebuah instrumen buatan, sering digunakan untuk merubah masyarakat
ALAT DAN BATAS PENDIDIKAN ISLAM
a.Alat pendidikan
Alat pendidikan adalah suatu tindakan atau perbuatan, situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Adapun jenis-jenisnya ada tiga, sebagai berikut:
1.Sifat,
Berupa positif / negatif, preventif / kuratif, represif / korektif
2.Bentuk
Berupa meteril / meteriil
3.Tujuan
Pembiasaan, ketenangan, keteladanan, perlindungan
Hukum dijadikan sebagai alat pendidikan? Hukuman adalah tidakan yang dijatuhkan kepada anak secara sadar dan sengaja sehingga menimbulkan nestapa, dengan tujuan agar anak menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Jenis-jenis hukuman:
·Hukuman membalas dendam
·Hukuman badan / jasmani
·Hukuman jeruk manis
·Hukuman alam
b.Batas pendidikan
Batas pendidikan adalah Secara umum, batas pendidikan Islam dipahami ebagairentang waktu pekerjaan mendidik,yaitu sejak awal dimulai hinggarakhirnyapekerjaan mendidik tersebut. Batas pendidikan islam menurut Syahminan Zaini “ bahwa pendidikan islam harus dimulai sejak seseorang laki-laki dan perempuan mengikat tali perkawinan, sebab sah tidaknya perkawinan akan mempengaruhi kehidupan suatu kelurga dan keturunan mereka”.
Dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 102, yang artinya:
“ hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepadan-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam”.
SISTEM PENDIDIKAN ISLAM
Bahwasanya pendidikan islam merupakan sebuah sistem secara garis besar yang meliputi komponen-komponen yang terdiri dari dasar dan tujuan, pendidik, peserta didik, alat pendidikan, dan kurikulum. Dalam sebuah pendidikan terdiri dari beberapa komponen berikuti ini:
·Pendidik
Pendidik dibagi dua yaitu:
1.pendidik kondra, yakni Allah, Nabi atau Rasul, orang tua
2.pendidik profesi, yakni seorang guru
Dalam UU No. 14 / 2005 berbunyi “ pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah”
·Peserta didik
Peserta didik adalah orang yang belum dewasa dan memiliki sejum;ah potensi dasar yang masih perlu dikembangkan.
·Dasar dan tujuan pendidikan
·Kurikulum atau meteri
Kurikulum adalah sebagaimana dalam UU No. 2 tahun 2003 yang berbunyi: “ kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isis dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan terntentu”
Adapun komponen dalam kurikulum yaitu:
-tujuan
-isi (bahan) pembelajaran dan pengalama belajar
-metode atau cara menyampaikan mata pelajara
-cara melakukan pengukuran dan penilaian hasil belajar
·Metode
Adalah cara yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan pelajaran kepada peserta didik.
·Alat atau media
Adalah suatu tindakan atau perbuatan, situasi atau benda yang sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan.
·Evaluasi
Adalah suatu kegiatan pengukuran dan penilaian terhadapa keberhasilan pendidikan dari berbagai aspek yang berkaitan dengannya. Fungsi evaluasi adalah:
1.untuk penempatan
2.sebagai formatif
3.sebagai diagnotik
4.sebagai sumatif
·Lingkungan
Adalah segala kondisi yang berada di luar individu dan bisa memberi pengaruh terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Lingkungan bisa berupa, pertama fisik, seperti iklim, tanah, alam, dll. Kedua, budaya, seperti, bahasa, sosial, seni,m ilmu pengetahuan, pandangan hidup, ketiga. Sosial, seperti:keluarga / sekolah, kelompok bemain.
ALIRAN-ALIRAN DALAM PENDIDIKAN
1.NATIVISME
Nativisme artinya aliran pembawaan.
Dipelopori oleh Arthur Schopenhauer.Berpendapat bahwa: perkembangan manusia dalam hidupnya sangat tergantung pada pembawaan (bakat, kesanggupan, dan sifat-sifat tertentu), sedikit sekali pengaruh yang datang dari luar.
2.EMPIRISME
Empirisme, artinya aliran pengalaman.Dipelopori oleh John Locke.Terkenal dengan Teori Tabula Rasa.Berpendapat bahwa perkembangan hidup manusia sangat ditentukan oleh pengalaman yang diperolehnya dari lingkungan, termasuk pendidikan. Pembawaan tidak berpengaruh sama sekali terhadap perkembangan manusia.
3.KONVERGENSI
Konvergensi, artinya penyatuan hasil.Dipelopori oleh William tern.Berpendapat bahwa: perkembangan manusia sangat tergantung pada faktor pembawaan dan lingkungan, pengalaman, pendidikan.
4.NATURALISME
Naturalisme, artinya aliran alamiah. Dipelopori oleh Jean Jaques ousseau.Berpendapat bahwa: manusia itu pada dasarnya baik.Jika ia menjadi jahat, itu bukan karena benihnya, tetapi berkembang setelah ia lahir. Agar kembali menjadi baik, serahkan saja pada alam, biarkan alam yang mendidiknya menjadi baik kembali.
Bookmark and Share

PANDANGAN TENTANG TUHAN

PANDANGAN TENTANG TUHAN
oleh : steofandi fizari (stain pontianak)
dalam memenuhi tugas makalah ilmu kalam
A.Sejarah Kata Tuhan dan Pengertiannya
Istilah “ Tuhan” merupakan kalimat yang teradopsi dari beberapa akar kata dari keyakinan dan ajaran orang-orang kafir lagi musyrik. Bahwasanya diperkirakan keyakinan “tu” dimana suatu ketika menyebar sampai ke daerah Melayu, mendapatkan imbuhan “han”, sehingga menjadi “Tuhan”. Kata tersebut dimulai pada tahun 5000 sm, berpangkal dari asia tengah, yang mungkin juga dianut oleh rasa mongoloid purba, yang merupakan nenek moyang dari rasa Cina, Tibet, dan Jepang. Penguasa sekalian alam menurut mereka itu adalah ”tu” yang sifat esa, tidak berawal dantidak berakhir.[1] Berikut ini dipaparkan tentang ajaran dalam memahami Tuhan:
1.Menurut ajaran Cina
Adalah ajarannya:” dalam segala benda ada ‘tao’, ‘tao’ sendiri bukan benda, dalam segala kejadian ada ‘tao’, jika suatu kejadian berakhir,’tao’ tetap kekal abadi. Ada dengan tiada tetap betautan, tak pernah bercerai, bermula terjadilah langit lalu bumi, keduanya diam keduanya. Sunyi ia,’tao’ ada bersendiri dan tak pernah berubah. Orang memandangnya, namun tak melekatnya, namanya ‘ie’ (samar), orang mendengarnya namun tak menyimaknya, namanya “hie’ (halus), orang mencapainya namun tak berpegang, nama ‘wie’.
2.Menurut Ajaran Jepang
Adalah ‘to’ itu pangkal kejadian, bila kejadian itu berakhir,’to’ tetap kekal abadi dan jalan itu adalah jalan pada ‘to’ (sinto).
3.Menurut ajaran Beun di Tibet
Ketika’taon’ hendak menciptakan alam, tetapi tak ada yang patut yang diberikan melainkan dirinnya, maka ‘taon’ pun meleburkan dirinya dalam alam sambil berpesan “aku adalah Engkau dan Engkau adalah Aku”, di Korea ‘taon’ disebut ‘teoh’.[2]
Demikianlah sejarah akar Tuhan yang diambil dari beberapa ajaran yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan menjadi kata Tuhan. “tidak ada satu sumber keterangan pun yang mengaitkan bahwa kata “Tuhan” berasal dari pecahan bahasa Arab dan dapat dipastikan pula berdasarkan keterangan sejarah kata ‘Tuhan’ tersebut mengindentifikasi bentuk kemusyrikan karena di dalamnya memiliki keyakinanadanya pencipta selain Allah SWT” (Abu Ghazi, dkk, 2007: 173)
Kata “Tuhan” dalam bahasa Indonesia, dimana memiliki arti yang berdekatan dengan “tuan” yang berarti “majikan” atau “pemilik,” seperti tuan rumah yang berarti pemilik rumah.
Imaduddin Abddurrahim, Ph.D mendefiniskan Tuhan sebagai segala sesuatu yang dianggap penting dan dipentingkan sehingga dirinya rela didominirnya. Dalam islam dikenal dengan istilah Illah. Illah adalah Tuhan dalam artian sebagai yang di sembah, tempat kita memohon. Ini yang membedakan seseorang apakah muslim atau bukan. Seseorang bisa memiliki sesembahan berhala (kaum paganis), atau api (zoraster) atau matahari dan masih banyak lagi. Tauhid yang sempurna berkaitan dengan pengakuan, pelaksanaan dan kesadaran bahwa hanya Allah yang kita sembah, sebab tanpa sadar kadang seorang muslimin tertipu sehingga menyembah hal-hal lain seperti kepada kuburan, batu atau hal-hal yang lebih abstrak seperti kekayaan dan kekuasaan. Hal-hal tersebut yang disebut sebagai musyrik atau menyekutukan Allah. Implikasi lain yang berkaitan dengan pengakuan bahwa Allah sebagai Ilah adalah kewajiban untuk berhukum hanya dengan hukum (aturan) Allah.
Menurut Imam Muhammad Baqir ra menjelaskan, “Allah” maknanya “Yang Disembah” yang agar makhluk (aliha, tidak mampu atau bingung) mengetahui Esensi-Nya (Mahiyah) dan memahami Kualitas-Nya (Kaifiyah). Orang Arab mengatakan, ‘Seseorang tercekam (aliha) jika ia merasa bingung (tahayyara) atas sesuatu yang tidak dapat dipahaminya, dan orang itu terpukau (walaha) jika ia merasa takut (fazi’a) kepada sesuatu yang ia takuti atau khawatirkan.[3]
B.Konsep Tentang Ketuhanan
Berkaitan dengan hal ini ada beberapa tentang konsep tentang ketuhanan, berikut ini:
Filsafat Iluminasi diarahkan pada sasaran yang bersifat teoretis di samping sisi praktis yang dapat dicapai, arah tersebut dimulai dengan penyucian diri dari segalala kotoran, baik secara ruhani ataupun jasmani. Langkah ini ditempuh sebagai tahapan awal penjalinan hubungan dengan Cahaya Murni-kesepuluh yang menjadi medium antara dunia materi dan imateri.[4]
Menurut Mulla Sadra tentang Tuhan yang sangat dalam ini beserta argumen shiddiqinnya merupakan hasil dari perjalanan panjang peradaban ilmu Ilahi manusia dan evolusi pemikiran filosofis dalam dunia Islam. Puncak kulminasi pemikiran filsafat ini, secara sempurna mempertemukan wahyu sebagai teks suci Tuhan dan semua aliran pemikiran filsafat dan teologi.
Dalam mazhab pemikiran Mulla Sadra, wujud makhluk, jika dibandingkan dengan wujud Tuhan bukanlah wujud yang hakiki. Makhluk disebut sebagai bayangan, citra dan manifestasi. Makhluk ini secara hakiki tak menampakkan dirinya sendiri tapi menampakkan Tuhan. Makhluk adalah citra Tuhan, bayangan Tuhan dan manifestasi Tuhan. Makhluk bukanlah sesuatu wujud mandiri   dimana dengan perantaraannya Tuhan tercitrai dan terbayangkan, tetapi dia adalah citra dan tajalli Tuhan itu sendiri.[5]
3.Konsep Ketuhanan Dalam Filsafat Peripatetik
Peripatetik adalah sebagai filsafat yang mendasarkan prinsipnya pada bentuk silogisme-Aristotelian yang sangat rasional. Adapun tokohnya yang terkenal adalah Ibn Sina. pendekatan kaum Peripatetik adalah lebih mendahulukan rasio dan memarjinalkan intuisi dan imajinasi yang tersimpan dalam jiwa manusia. Dalam tataran konsep Peripatetik tentang Tuhan adalah pembuktian wajibul wurud (Tuhan, mesti-ada dengan sendirinya) dan mumkinul wujud (makhluk, mesti-ada dengan selainnya).
C.Wujud Tuhan
Wujud atau adanya Tuhan. Bukanlah perkara sukar yang harus dicari dengan jalan-jalan berbelit-belit. Tabiat manusia dan perjalanan hidupnya kemana pun tujuan jalannya dan di mana pun perhatiannya di sanadia akan bertemu adanya tuhan. Bahwasanya orang yang ingkar akan adanya Allah adalah orang yang rugi, karena ia kehilangan pegangan hidup. Al-Husaya ibn al-Qasim ibn Ibrahim bertanya kepadaayahnya , bagaimanakah kita menjawab pertanyaan kaum zindiq dan orang kafir mengenai bukti adanya Allah, Tuhan semesta alam?, lalu ayahnya menjawab “ cara yang aman (untuk memperoleh pengetahun mengenai Allah dan jalan masuk terdekat yang diciptakan oleh Allah dan tanda-tanda ciptaan-Nya yang diwujudkan-Nya di dalam segala sesuatu. Allah SWT berfirman:
Artinya :”6. Yang demikian itu ialah Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.7.Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.8.Kemudian dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.9.Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. [6]
Eksistensi Tuhan adalah salah satu masalah paling fundamental manusia, karena penerimaan maupun penolakan terhadapnya memberikan konsekuensi yang fundamental pula. Alam luas yang diasumsikan sebagai produk sebuah Kekuatan Yang Maha Sempurna dan Maha Bijaksana dengan tujuan yang sempurna berbeda dengan alam yang diasumsikan sebagai akibat dari kebetulan atau insiden.[7]
Dari haltersebut ada beberapa cara untuk mengetahui eksistensi Allah:
1.Pengetahuan mengenai Allah dan pencapaiannya harus diperoleh secara langsung melalui panca indera.
2.Pengetahuan mengenai Allah dan pencapaiaannya melalui jiwa.
Bahwasanya jika Dia dikenal atau diketahui melalui (indera dan jiwa), maka akan berakibat fatal sebab Dia akan disifati oleh sifat yang dimiliki melalui pengetahuan kedua tersebut.Karena segala sesuatu yang ditangkap indera, meski berbeda dari jiwa yang akan dipahami akan pasti akan menjadi sesuatu yang rentan dan fana.
3.Pengetahuan mengenai Allah SWT, melalui imajinasi
Adalah tidak sah, karena Dia diserupakan dengan kehampaan alam khayal dari tubuh
4.Pengetahuan hipotetik mengenai Allah
Adalah mungkin dan dapat terjadi, karena dugaan itu terkadang benar dan keliru.
5.Dengan bukti yang berada dan terutama di dalam hati
Ini adalah kebenaran dan tidak ada orang yang tidak sependapat mengenai hal ini.
6.Dengan hanya salah satu dari cara-cara di atas
Hal ini sesuatu hal yang mustahil dan tidak sah mengenai-Nya.
7.Dengan seluruh cara yang disebutkan dan dijelaskan di atas
Inilah hal yang paling mustahil yang ada dalam pikiran sebab dengan menggabung
8.Melalui keberadaan Dia dari segala sesuatu
Hal ini merupakan pengetahuan yang paling murni dan paling benar yang melalui cara itu makhluk yang berakal akan mengenal Dia yang Maha Suci.[8]
Allah SWT mengajarkan manusia untuk mengenal-Nya dengan pasti sebagaimana dalam Al-Qur’an dalam surah Yunus ayat 31-31:
“31.Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup[689] dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”32.Maka (Zat yang demikian) Itulah Allah Tuhan kamu yang Sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?”
Dari ayat tersebut para Mufassirin memberi memberikan perumpamaan untuk ayat ini dengan mengeluarkan anak ayam dari telur, dan telur dari ayam. dan dapat juga diartikan bahwa pergiliran kekuasaan diantara bangsa-bangsa dan timbul tenggelamnya sesuatu umat adalah menurut hukum Allah.
“Bahwasanya bukti mengenai (eksistensi Allah adalah melalui petunjuk-petunjuk dan melalui makhluk yang diciptakan-Nya yang menjadi bukti (dalil) adas Diri-Nya sendiri”[9]
D.Sifat dan Perbuatan Tuhan
Adapun yang dimaksud dengan “sifat” adalah kata yang dinisbahkan kepada Tuhan dan terpredikasi pada dzat Ilahi.[10]
Dalam pembahasan dalam wilayah ilmu Kalam (teologi), maka yang penting bagi kita adalah makna istilah sebagaimana yang dimaksud oleh para teolog atau mutakallim. Dalam literatur ilmu kalam, istilah “sifat Ilahi” lebih banyak digunakan. Istilah ini terkadang digunakan sama dengan asma (nama-nama). Kata-kata seperti ‘âlim, ‘alîm“, qâdir, hayyu, dan murîd dan sebagainya, dikategorikan sebagai sifat dan asma Ilahi. Kadangkala terdapat pula perbedaan antara sifat dan asma Tuhan ini dimana berdasarkan hal tersebut, kata-kata semacam ‘ilm, kodrat, hayât dan sebagainya, adalah merupakan sifat-sifat Tuhan sedangkan kata-kata seperti ‘âlim, ‘alîm, qâdir, hayyu dan sebagainya merupakan asma Tuhan.
Bisa dikatakan bahwa di antara semua itu terdapat pula istilah lain dimana maksud dari ism (nama) adalah kata yang menunjukkan nama khusus Tuhan, sedangkan sifat adalah kata yang menghikayatkan sifat-sifat Tuhan. Berdasarkan istilah ini, jumlah asma Tuhan menjadi sangat sedikit dan hanya berkisar pada kata-kata semacam Allah dalam bahasa Arab dan Khudâ dalam bahasa Persia (atau Tuhan dalam bahasa Indonesia,), akan tetapi sifat-sifat Tuhan sangat banyak dan kata-kata semacam ‘âlim, hayyu, murîd, qâdir, dan sebagainya, seluruhnya termasuk dalam sifat-sifat Tuhan. Allah SWT berfirman:
“Hanya milik Allah al-asma’-al-husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-asma’-al-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (Qs. Al-A’raf 180).
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. tentang maksud firman Allah yang bermaksud: “menyelewengkan Asma Nya” ia mengatakan, bahwa yang dimaksudnya adalah: “berbuat syirik ( dalam Asma Nya), iaitu orang-orang yang menjadikan Asma-asma Allah untuk berhala mereka, seperti nama Al Lata yang berasal dari kata Al Ilah, dan Al Uzza dari kata Al Aziz “.[11]
Dalam pandangan para filosof dan teolog muslim, Tuhan, di samping mempunyai sifat-sifat kesempurnaan, Dia juga merupakan sumber terjadinya seluruh perbuatan. Berangkat dari sini, penciptaan, pemberian rezki, pengaturan perkara-perkara makhluk, pengampunan dan sebagainya termasuk dalam kategori perbuatan-perbuatan Tuhan. Dari sisi lain, alam eksistensi merupakan wadah terjadinya perbuatan-perbuatan dan manifestasi efek-efek yang sangat beraneka-macam yang sumbernya dalam tinjauan pertama, adalah makhluk-makhluk Tuhan.
Masalah tentang apa hakikat “perbuatan” Tuhan, adalah suatu bahasan yang sangat dalam dan rumit. Menurut aliran Maturidiyah perbuatan Tuhan Perbuatan Tuhan mengambil bentuk ‘penciptaan daya’ dalam diri manusia, sedangkan ‘pemakaian daya’ tersebut adalah perbuatan manusia sendiri. Oleh sebab itu manusia dalam pandangan Maturidiyah Samarkand mempunyai kebebasan dalam melakukan perbuatannya, dan perbuatan itu adalah perbuatan manusia sendiri dalam arti sebenarnya, bukan dalam arti kiasan.[12]
KESIMPULAN
Masalah ketuhanan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Sadar atau tidak, semua orang pasti bertuhan dan melakukan penyembahan terhadap tuhannya itu. Persoalannya adalah tuhan yang disembahnya itu apakah Tuhan yang sebenarnya, yaitu Tuhan yang mencipta dan mengatur alam semesta, atau tuhan yang justru diciptakan oleh manusia.
Dalam perspektif Islam, pengakuan adanya Tuhan sudah ada pada diri manusia semenjak dia belum dilahirkan.
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Qs. Al-A’raf 172).

Pengikut